Jalan Banteng Ujung Deli Tua Kini Rawan Banjir

Advertisement

Jalan Banteng Ujung Deli Tua Kini Rawan Banjir

TARUNA OFFICIAL
Jumat, 24 April 2026

Deli Serdang 25 April 2026
Jalan Banteng Ujung, Dusun III Desa Mekar Sari, Kecamatan Deli Tua, yang kini telah diaspal dan dilengkapi parit, menyimpan cerita panjang tentang dugaan keterkaitan antara pembangunan infrastruktur dan peta kekuatan politik di tingkat lokal.

Dahulu, jalan tersebut hanyalah akses kecil menuju ladang warga. Kondisinya sempit dan berubah menjadi kubangan lumpur setiap kali hujan turun. Padahal, jalan ini merupakan jalur penghubung penting antara Kecamatan Deli Tua dan Kecamatan Patumbak, dengan Sungai Batuan sebagai batas wilayah.

Sejumlah warga menyebutkan, kondisi memprihatinkan itu berlangsung cukup lama tanpa perhatian berarti dari pemerintah. Hal ini diduga tidak lepas dari kuatnya dominasi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di wilayah tersebut, yang berakar dari basis lama Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tokoh-tokoh lokal seperti almarhumah Leginem, yang merupakan figur berpengaruh sekaligus orang tua dari Legiman Gaweng, disebut menjadi bagian dari kuatnya loyalitas politik warga. Kondisi ini membuat partai lain, termasuk Golkar yang saat itu menjadi kekuatan utama pemerintah, kesulitan menembus basis suara di desa tersebut.

“Meski jalannya penting, seperti tidak dianggap. Mungkin karena bukan basis mereka,” ungkap seorang warga yang mengetahui sejarah pembangunan di kawasan itu.

Akibat minimnya perhatian, warga terpaksa mengambil inisiatif sendiri. Jalan yang berlumpur ditimbun menggunakan dedak gergajian kayu agar tetap bisa dilalui, terutama untu mengangkut hasil pertanian.

Perubahan mulai terjadi ketika Suardi, salah satu warga, aktif melakukan pendekatan ke pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Melalui serangkaian lobi politik, rencana pengaspalan jalan akhirnya mendapat persetujuan.

Namun, realisasi pembangunan tidak serta-merta berjalan mulus. Jalan harus diperlebar dan dilengkapi dengan sistem drainase, yang berarti membutuhkan persetujuan dari pemilik lahan.

Pendekatan dilakukan secara intensif kepada para pemilik tanah, seperti almarhum Sutoikromo, Rapon, Sarengat, hingga Karto Susah. 

Dukungan masyarakat juga dikonsolidasikan melalui pertemuan-pertemuan warga dan pengumpulan tanda tangan sebagai bentuk persetujuan terhadap program pemerintah.

Sejumlah tokoh Golkar bahkan turun langsung ke lokasi, di antaranya almarhum Jusuf Sembiring yang kemudian menjabat Wakil Bupati Deli Serdang, serta almarhum Elia Tarigan dan perwakilan Dinas Pekerjaan Umum.

Hasilnya, jalan dan parit di Jalan Banteng Ujung akhirnya berhasil dibangun. Sistem drainase dirancang mengalirkan air ke pinggiran sawah dan bermuara ke Sungai Batuan.

Namun, keberhasilan tersebut tidak bertahan lama.
Seiring waktu, alih fungsi lahan mulai terjadi. Tanah milik warga dijual dan dikembangkan menjadi kawasan usaha hingga perumahan kapling. 

Perubahan ini berdampak langsung pada sistem drainase yang sebelumnya telah dibangun.

Saluran air yang semula mengarah ke Sungai Batuan melalui area persawahan kini tertutup akibat pembangunan. Bahkan, sebagian aliran air dialihkan ke lokasi yang lebih tinggi, menyebabkan air tidak lagi mengalir secara normal.

Akibatnya, genangan air kerap terjadi di badan jalan saat hujan turun.

“Sekarang kalau hujan, air naik ke jalan. Seperti kolam,” kata warga lainnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru: apakah pembangunan yang dulu diperjuangkan dengan susah payah kini terancam sia-sia akibat lemahnya pengawasan tata ruang?

Kasus Jalan Banteng Ujung menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga erat kaitannya dengan dinamika politik dan konsistensi pengelolaan lingkungan di tingkat lokal.

       Ke Titik Awal

Kini jalan dan paritnya kembali ke titik awal. Dengan adanya pengusaha Kaplingan yang menimbun sawah.

Jalannya rusak, paritnya tumpat. Hal ini harus direncanakan kembali, agar jalannya diperbaiki dan paritnya dapat lancar kembali.

Pihak pengusaha Kaplingan yang memperparah keadaan jalan dan parit, tidak bertanggung jawab. Secara tehnis, parit harus dikembalikan seperti semula. Bagian hulu harus lebih tinggi dari bagian hilir. Dengan demikian air akan kembali lancar. Tidak seperti sekarang, air tergenang di tengah. Dan jika musim hujan, meluap ke jalan, bagaikan kolam. Bahkan masuk ke rumah penduduk.(***)



tim/red